Selasa, 20 Oktober 2015

Kenapa Maung Membela Macan Provokator?

            Meskipun saya merasa diri saya Bobotoh, namun kadar ke-PERSIB-an saya masih perlu dipertanyakan, dan merasa belum pantas disebut Maung. Mungkin legal standing saya hanya sebatas kucing yang mengeong setiap Persib berlaga di lapangan hijau. Akan tetapi, saya cukup bisa menalar, disaat pucuk pimpinan sebuah organisasi memprovokasi baik sebatas lisan apalagi di media sosial dengan pemirsa yang tak hanya satu dua, tentu memicu reaksi para pengikutnya. Saya rasa, tak pas kiranya jika memakai standar kacamata Bobotoh Persib kepada pendukung Persija.

Sudah barang tentu, betul kalau mang Ayi adalah panutan para Bobotoh, yang tanpa punya medsos pun instruksinya di ikuti para anggota Viking. Namun, tak dapat kiranya jika standar tersebut disematkan pada organisasi fans Persija: Jakmania. Kenapa? Disadari atau tidak, Persib bagi warga Jawa Barat, adalah bagian dari kehidupan. Mendukung Persib, menjadi supporter militan, adalah bagian yang tak terpisahkan bagi urang bandung. Bobotoh Persib, adalah kultur Jawa Barat. Tapi apakah hendak dikatakan, hal yang sama juga berada di fans Persija? Apakah “masyarakat” Jakarta memiliki kultur mendukung tim Ibu kota? Mudah-mudahan bisa menangkap poinnya.

Di Bandung, tanpa ada organisasi supporter Persib seperti Viking, Bomber dan lainnya, masyarakat Jawa Barat tentu mendukung Persib. Istilah Bobotoh jelas lahir sebelum organisasi formal supporter Persib seperti Viking hadir. Artinya, tanpa diorganisir, masyarakat Jawa Barat khususnya Bandung, boga getih ngadukung Persib. Sehingga, pantaslah jika Mang Ayi didengar semua pihak pendukung persib karena kadar ke-Persib-an nya. Tanpa punya embel-embel panglima Viking pun, karena kadar itulah ia dihormati. Artinya, Viking pun tidak didengar karena ada organisasinya, tapi karena Persibnya. 

Berbeda jika supporter Persija, The Jakmania. Mereka tak punya kultur seperti para Bobotoh. Mereka diorganisir, membuat sebuah perkumpulan dengan struktur formal, dan anggotanya terikat dengan organisasinya yang kebetulan mendukung Persija. Bisa dihitung satu dua mereka yang memang pure mendukung Persija yang tak peduli apakah dia The Jak atau bukan. Sependek pengetahuan saya, dan hasil pengamatan subjektif saya anggota The Jak mania lebih bangga karena The Jak nya, jauh berbeda dengan Bobotoh yang tak peduli Viking atau bukan, dipimpin oleh ketuanya atau tidak, mendukung Persib adalah kebanggaan.

Poin yang ingin saya sampaikan, Pertama, jika ada Maung yang menalar bahwa tidak masuk akal jika ada Sekjen sebuah organisasi supporter mampu membuatnya didengar oleh ribuan orang yang anarkis, saya kira justeru jika dalam hal ini Jakmania, sungguh sangat masuk akal. Seorang sekjen dalam Jakmania, tentu berpengaruh ditambah apalagi jika rasa rivalitas dan kebencian The Jakmania kepada Viking (bukan pada Persib) yang hendak menyerbu GBK, seperti percikan api kecil yang dilempar kedalam tuangan bensin. Mereka yang asalnya ingin berbuat onar sendirian, asa kahatean ketika Sekjen organisasinya memberi sinyal untuk bertindak anarkis. Sekecil apapun provokasi, jika disuarakan pada sekumpulan orang yang sangat berhasrat untuk anarkis, akan menimbulkan reaksi besar. Apalagi jika yang memberi sinyal adalah pucuk tertinggi organisasinya. Tak berlebih jika si F ini saya katakan adalah Provokator.

Kedua, memang betul kiranya apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam fikiran apalagi dalam perbuatan. Jika Maung hendak membela si F atas dasar niat suci murni agar seorang warga negara diperlakukan adil dan hukum ditegakkan sebagai mana mestinya, tentulah yang paling pantas dan pertama kali dibela bukanlah pelaku tapi korban. Dalam hal tindakan anarkis The Jakmania pada para Bobotoh Persib, saya yang sama sekali boloho dalam bidang hukum pun tahu, siapa pelaku, siapa korban. Apalagi ditambah embel-embel Maung identik dengan para Bobotoh Persib, tentunya legal standing dia yang memahami hukum harus lebih mengutamakan korban yang tak lain saudaranya sendiri. Ya, pasti lain ceritanya jika julukannya Macan. Mungkin tak usah ada reaksi dan pasti aing ge sare we lah.

Ketiga, jika Maung mengutip ayat janganlah kebencian kepada suatu kaum, membuatmu bertindak tidak adil, tentunya Maung ini pinter baca Qur’an. Tapi, Maung harus sadar, yang paling benar adalah ngamalkeun dalil, lain ngadalilan amal. Menyitir ayat Al-Qur’an untuk membenarkan legal standing Maung sekarang, bukanlah bentuk ngamalkeun dalil. Dalam konteks F ini, yang jelas diperlakukan tidak adil dengan adanya tim pembela hukum pelaku, pastilah korban, karena sampai saat ini korban malah tak ada yang bela. Setiap warga negara memang harus diperlakukan sama dimata hukum, tapi dibentuknya institusi kepolisian dan kejaksaan adalah manifestasi bahwa yang perlu pertama kali dibela adalah korban, bukan pelaku. Urusan hukum, tentu Maung lebih faham dan sayapun tak punya mood untuk berdiskusi soal hukum. Namun cukuplah saya tutup tulisan ini dengan “Janganlah karena babaturan sorangan nu menta dan era nolak, membuatmu menjadi tidak adil dan poho melaan lemah cai..”

Hidup PERSIB!

Oleh: Isman R Yusron, Bobotoh Gone Gole Wew!