Meskipun saya merasa diri saya Bobotoh, namun kadar
ke-PERSIB-an saya masih perlu dipertanyakan, dan merasa belum pantas disebut Maung.
Mungkin legal standing saya hanya
sebatas kucing yang mengeong setiap Persib berlaga di lapangan hijau. Akan
tetapi, saya cukup bisa menalar, disaat pucuk pimpinan sebuah organisasi
memprovokasi baik sebatas lisan apalagi di media sosial dengan pemirsa yang tak
hanya satu dua, tentu memicu reaksi para pengikutnya. Saya rasa, tak pas kiranya
jika memakai standar kacamata Bobotoh Persib kepada pendukung Persija.
Sudah
barang tentu, betul kalau mang Ayi adalah panutan para Bobotoh, yang tanpa
punya medsos pun instruksinya di ikuti para anggota Viking. Namun, tak dapat
kiranya jika standar tersebut disematkan pada organisasi fans Persija:
Jakmania. Kenapa? Disadari atau tidak, Persib bagi warga Jawa Barat, adalah
bagian dari kehidupan. Mendukung Persib, menjadi supporter militan, adalah
bagian yang tak terpisahkan bagi urang bandung. Bobotoh Persib, adalah kultur
Jawa Barat. Tapi apakah hendak dikatakan, hal yang sama juga berada di fans
Persija? Apakah “masyarakat” Jakarta memiliki kultur mendukung tim Ibu kota? Mudah-mudahan
bisa menangkap poinnya.
Di
Bandung, tanpa ada organisasi supporter Persib seperti Viking, Bomber dan
lainnya, masyarakat Jawa Barat tentu mendukung Persib. Istilah Bobotoh jelas
lahir sebelum organisasi formal supporter Persib seperti Viking hadir. Artinya,
tanpa diorganisir, masyarakat Jawa Barat khususnya Bandung, boga getih
ngadukung Persib. Sehingga, pantaslah jika Mang Ayi didengar semua pihak
pendukung persib karena kadar ke-Persib-an nya. Tanpa punya embel-embel
panglima Viking pun, karena kadar itulah ia dihormati. Artinya, Viking pun
tidak didengar karena ada organisasinya, tapi karena Persibnya.
Berbeda
jika supporter Persija, The Jakmania. Mereka tak punya kultur seperti para Bobotoh.
Mereka diorganisir, membuat sebuah perkumpulan dengan struktur formal, dan
anggotanya terikat dengan organisasinya yang kebetulan mendukung Persija. Bisa
dihitung satu dua mereka yang memang pure
mendukung Persija yang tak peduli apakah dia The Jak atau bukan. Sependek
pengetahuan saya, dan hasil pengamatan subjektif saya anggota The Jak mania
lebih bangga karena The Jak nya, jauh berbeda dengan Bobotoh yang tak peduli
Viking atau bukan, dipimpin oleh ketuanya atau tidak, mendukung Persib adalah
kebanggaan.
Poin
yang ingin saya sampaikan, Pertama, jika ada Maung yang menalar bahwa tidak
masuk akal jika ada Sekjen sebuah organisasi supporter mampu membuatnya
didengar oleh ribuan orang yang anarkis, saya kira justeru jika dalam hal ini
Jakmania, sungguh sangat masuk akal. Seorang sekjen dalam Jakmania, tentu
berpengaruh ditambah apalagi jika rasa rivalitas dan kebencian The Jakmania
kepada Viking (bukan pada Persib) yang hendak menyerbu GBK, seperti percikan
api kecil yang dilempar kedalam tuangan bensin. Mereka yang asalnya ingin
berbuat onar sendirian, asa kahatean
ketika Sekjen organisasinya memberi sinyal untuk bertindak anarkis. Sekecil
apapun provokasi, jika disuarakan pada sekumpulan orang yang sangat berhasrat
untuk anarkis, akan menimbulkan reaksi besar. Apalagi jika yang memberi sinyal
adalah pucuk tertinggi organisasinya. Tak berlebih jika si F ini saya katakan
adalah Provokator.
Kedua, memang betul kiranya apa yang dikatakan Pramoedya
Ananta Toer, seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam fikiran apalagi
dalam perbuatan. Jika Maung hendak membela si F atas dasar niat suci murni agar
seorang warga negara diperlakukan adil dan hukum ditegakkan sebagai mana
mestinya, tentulah yang paling pantas dan pertama kali dibela bukanlah pelaku
tapi korban. Dalam hal tindakan anarkis The Jakmania pada para Bobotoh Persib,
saya yang sama sekali boloho dalam
bidang hukum pun tahu, siapa pelaku, siapa korban. Apalagi ditambah embel-embel
Maung identik dengan para Bobotoh Persib, tentunya legal standing dia yang memahami hukum harus lebih mengutamakan
korban yang tak lain saudaranya sendiri. Ya, pasti lain ceritanya jika
julukannya Macan. Mungkin tak usah ada reaksi dan pasti aing ge sare we lah.
Ketiga, jika Maung mengutip ayat janganlah kebencian kepada
suatu kaum, membuatmu bertindak tidak adil, tentunya Maung ini pinter baca Qur’an.
Tapi, Maung harus sadar, yang paling benar adalah ngamalkeun dalil, lain ngadalilan amal. Menyitir ayat Al-Qur’an
untuk membenarkan legal standing Maung
sekarang, bukanlah bentuk ngamalkeun dalil. Dalam konteks F ini, yang jelas
diperlakukan tidak adil dengan adanya tim pembela hukum pelaku, pastilah
korban, karena sampai saat ini korban malah tak ada yang bela. Setiap warga
negara memang harus diperlakukan sama dimata hukum, tapi dibentuknya institusi
kepolisian dan kejaksaan adalah manifestasi bahwa yang perlu pertama kali
dibela adalah korban, bukan pelaku. Urusan hukum, tentu Maung lebih faham dan
sayapun tak punya mood untuk berdiskusi soal hukum. Namun cukuplah saya tutup
tulisan ini dengan “Janganlah karena babaturan
sorangan nu menta dan era nolak, membuatmu menjadi tidak adil dan poho melaan lemah cai..”
Hidup PERSIB!
Oleh: Isman R Yusron,
Bobotoh Gone Gole Wew!