...sambil ngopi di subuh hari
~ menyaring kata, menyeduh frasa, meneguk bait cerita...
Selasa, 20 Oktober 2015
Kenapa Maung Membela Macan Provokator?
Selasa, 25 Agustus 2015
Biru & Kelabu (3)
Sambil memegang daun telinga cangkir kopi, aku menyandarkan bahuku ke tiang pembatas antara pintu dan jendela. Mataku kosong tetap menatap ayunan itu. Dalam pikiranku berkecamuk pertanyaan tadi. Aku ingin mengedipkan mataku, tapi tak bisa. Pikiranku menyibukkanku dari sekadar menyadari apa yang kupandang atau sekadar kedipan membasahi dua bola mataku.
Bibirku bergerak namun tak bersuara. Malu rasanya berterus terang menjawab pertanyaannya. Aku hanya menyunggingkan sudut bibirku, menahan senyuman. Sejauh aku mengenalnya, dia seorang yang haus akan pengetahuan. Ia tak pernah berhenti bertanya, dan Ia tak pernah berubah. Terkadang aku menjadi kesal karena dia selalu mengejar pertanyaan kenapa ketika dia butuh jawaban atas apa yang kulakukan. Dan sekarang, aku yakin dia akan mengulang pertanyaannya, karena aku tak jua bicara.
“Kenapa? Kenapa kamu tinggalkan itu dulu?”
“Hmmmh..” responku sembari tersenyum.
Dari sudut mata, aku lihat istriku bangkit menghampiri. Memegang tatakan dan ujung bibir cangkir. Sesekali ia menghembuskan nafas, langkahnya sempat ragu terhenti, namun jua menghampiri. Saat tangannya mendarat di bahuku, aku menoleh “ada yang perlu, dan tidak perlu kamu tahu tentangku, ada yang dengan sendirinya kau tahu, namun ada yang takkan pernah kamu tahu barang sedikit,” kataku sembari menatap kosong wajahnya.
“Kamu, sejak ku kenal, sampai kapanpun, selalu misteri,” jawabnya melempar pandang ke taman.
Aku masih sibuk dengan pikiranku. Banyak episode cerita berputar-putar berulang dalam benak. Dengan itu, kesadaranku seketika terhirup dalam: kembali menjadi pemeran masa lalu. Kurasai, suasana, alur cerita hingga rasa yang telah kualami masa itu seakan menjadi cuaca lamunanku sore ini. Aku membayangkan riuhnya penonton, gelak tawa serta bisikan kanan kiri mengomentari performa yang kusajikan di malam medio februari. Aku masih ingat betul, sajian drama berbumbu komedi sana sini yang kumainkan, cerita tentang perantauan kampung menjejaki kerasnya nasib di Jakarta. Bukan tanpa alasan aku membayangkan episode ini, ada kesan yang tiba-tiba tertanam mengakar saat aku di pentas ini. Belum sampai lamunanku pada peristiwa itu, istriku menarikku kembali pada kesadaran. “Sudah, habiskan kopimu! Kan kamu pernah bilang, kopi dingin melahirkan rasa yang berbeda,” katanya menepuk bahuku sambil berlalu duduk kembali.
“Maaf, tiba-tiba aku berubah melankoli. Mungkin lelah membuat benak menjadi kelabu,” ujarku padanya. Ia meletakkan cangkir tehnya di meja kecil bundar, lalu membuka lembaran koran yang tak sempat kubaca pagi ini. Kulihat geriknya, membuat aku jadi membayangkan dirinya saat muda, saat bersamaku. Posisi itu seperti sudah menjadi khasnya. Tak banyak yang berubah dari istriku ini. Tubuhnya, seolah memancarkan ketabahan. Tak henti aku kagum padanya, bukan pada kemolekan tubuhnya, atau hal-hal lain yang berbau fisik: aku kagum pada isi kepalanya.
Terkadang ia sulit kutebak. Hidup dua setengah kalipun tak cukup waktu memahaminya. Wanita kebanyakan memang sulit ditebak, topengnya terlalu rumit dan beragam. Tapi, dia lebih rumit lagi, kadang aku seperti monyet yang berupaya memahami kenapa awan bisa bergelantungan di langit. Perjalananku mendapatakannyapun, bukan tanpa kerumitan. Berulang kali harus kuputar otakku untuk memahami, drama apa yang tengah ia mainkan. Jejak dan alur untuk mengikutinya, bergelombang penuh emosi, tak hanya bisa difahami dengan sekali mengayun kaki. Tapi, dengan itu aku mengerti, betapa dalam hati perempuan. Menyelaminya, berarti siap menyerahkan pada kematian. Tak bisa kuhitung berapa kali hatiku patah demi memahami jengkal jejak waktunya.
Kini ia melihatku yang sedari tadi memandangnya tanpa kedip. Sekilas ia tersenyum, “Kamu berhutang jawab atas pertanyaanku, dan penasaranku tak bisa selesai dengan hanya bengong menatap,” sungging senyumnya kembali merekah. Aku hanya ikut merasakan senyum hangatnya.
Biru & Kelabu (2)
Tapi hari ini lain. Ia langkahkan kedua kakinya menuju taman. Ku kira ia datang untuk sekadar mengecup kening atau pipiku. Nyatanya bukan.
“Aku ingin kembali main teater,” ujar suamiku tiba-tiba.
Sejenak aku diam, tertegun. “Kamu yakin?”
Dia memandang ke arahku, lebih tepatnya memelototiku. Oke, ada satu hal yang harus aku pahami. Bahwa ketika dua bola mata suamiku tengah terbuka lebih besar dari biasanya, hal itu menandakan bahwa ia benar-benar yakin dengan apa yang diperbuat dan diucapkannya.
Aku mungkin tak paham tentang dunia yang telah digeluti kemudian ditinggalkannya sepuluh tahun silam. Jelas, aku bukan perempuan yang senang merecoki urusan pribadi orang lain. Oleh sebab itu aku tak pernah menanyakan perihal tersebut padanya.
Teater, bagiku tempat dimana aku pertama kali berjumpa dengannya. Waktu itu, kali pertama sekaligus kali terakhir aku melihatnya di atas panggung sana. Tak jelas apa alasannya mengapa ia pergi begitu saja dari panggung yang telah membesarkan namanya.
“Aku sudah memikirkan hal ini masak-masak,” tuturnya diakhiri dengan helaan napas.
Aku masih diam. Masih berusaha memahami jalan pikiran suamiku. Aku tatap lekat-lekat wajah di depanku ini. Jelas, tak ada keraguan sedikit pun yang nampak pada parasnya.
Jujur saja aku tak begitu kaget ketika ia berujar seperti itu. Sebetulnya belakangan ini aku telah sering memergokinya berdiri di depan sebuah cermin ruang tengah rumah kami. Ukuran cermin di ruangan itu memang lebih besar daripada cermin yang lain yang ada di rumah. Ku kira hal itulah yang membuatnya betah berlama-lama menatap kembaran semunya. Namun ada hal yang lain. Ia tak hanya berdiri untuk berkaca tapi ia mengajak bicara kembaran semunya yang terpantul di cermin tersebut. Kadang, ia terlihat seolah-olah sedang marah, sinis, gembira tiba-tiba kemudian setelah itu hanya sedih yang ia perlihatkan. Aku tak ingat apa yang ia ucapkan saat itu, tapi aku seperti melihat dia yang dulu, waktu di atas panggung tearternya.
“Tak masalah buatku kalo kamu mau balik lagi ke panggung. Mungkin di sanalah tempatmu. Tapi boleh aku tahu, mengapa dulu kamu tinggalkan teatermu itu? ”
Biru & Kelabu (1)
Kalimat itu begitu saja mengalir dari mulutku. Istriku, yang pada waktu itu hampir mencumbu bibir gelas tehnya, seketika mengembalikan ke tatakan. “Kamu yakin?” ujarnya sambil mengerutkan kening. Aku hanya terdiam tak melanjutkan percakapan ini. Mataku lurus melihat ayunan bercat putih yang terbuat dari besi di sudut taman belakang. Ayunan itu adalah mimpi istriku. Semenjak kami berpacaran, dia memimpikan memiliki rumah dengan sepetak perpustakaan tersembunyi yang menghadap taman dengan rerumputan hijau serta bunga-bunga berwarna kontras. Taman itu juga tersembunyi, dimana saat itu dia membayangkan bahwa setiap orang yang datang kerumahnya, takkan pernah tahu bahwa ada sudut indah dalam rumahnya.
Sepuluh tahun, berlalu begitu cepat. Masih lekat dalam ingatan, aku untuk pertama kalinya melingkarkan cincin emas tak seberapa harganya di jari manis istriku. Hingga saat ini, istriku tak pernah mengungkit berapa harga yang ku rogoh dari kocekku untuk membellinya. Baginya, sekadar cincin pernikahan bukanlah harga yang pantas untuk membeli tubuhnya. “Cinta, lebih mahal ketimbang harta,” selorohnya, setiap kali. Begitupun pada saat kami berpacaran. Selama itu, aku tak pernah membelikannya apapun.
Meski begitu, aku sudah melingkarkan sesuatu di jarinya. Suatu hari, aku memungut sampah plastik berwarna perak keemasan. Aku menarik plastik itu hingga panjang dan membentuk persis seperti kawat. Saat itu dia sedang membaca majalah, diam membatu, karena selalu begitu saat dia sedang membaca. Aku tarik lengan kirinya, lalu di jari manisnya aku ikatkan plastik perak itu dengan simpul kupu-kupu. Aku mengecup jemarinya mesra. Dia hanya tersenyum. Aku fikir, ikatan plastik sampah itu akan segera dia buang saat pulang ke rumah. Bagikupun, itu tak berarti apa-apa, hanya ungkapan yang aku bosan jika hanya terucap “aku cinta padamu”. Hingga sesaat sebelum aku melingkarkan cincin emas betulan di jarinya, saat disampingnya di depan penghulu, sekilas aku menengok ke jarinya: masih terikat.
Dulunya, aku adalah pemain teater. Aku berada di dunia sandiwara sebagai aktor ulung cukup lama. Bagiku, teater adalah dunia tanpa batas yang bisa aku ciptakan sendiri. Setidaknya, di dunia teater, meski hanya sandiwara dan rekayasa, aku lebih hidup ketimbang di dunia nyata. Dunia nyata selalu penuh dengan kepalsuan. Dunia teater, sepenuhnya palsu tapi mencerminkan kejujuran paling hakiki dari dasar hati. Aku begitu nyaman tenggelam dalam dunia kepalsuan ini. Karena dengan kepalsuan ini aku bisa dengan jujur meluapkan kerisauan. Dunia nyata terlalu kaku bagiku, hingga saat aku bertemu dengan istriku, semua berubah. Dia membawaku melihat warna di dunia nyata: meyakinkanku bahwa tak semua sudut dunia ini palsu.
Jumat, 21 Agustus 2015
Pertemuan
Awalnya betul juga, kita masih terpaut. Kau masih mengabari, tertawa bersamaku, atau menertawai satu sama lain. Perpisahan malam itu, aku yakini tak berarti apapun. Sampai aku mengabari, punggungku kosong tanpa ceritamu seperti biasa. Cerita perjalanan yang sulit kita hentikan. Sampai tiba di depan peraduan, ada masih banyak cerita yang belum diungkapkan. Sehingga kita masih berasa perlu saling mengabari, sampai seterusnya kembali bercerita. Diskusi-diskusi tiada henti, adalah isi dari hidup bersama. Kadang kau menang, kadang aku yang tak mau kalah. Tapi itu tak mengapa, tak berarti apa-apa.
Aku yang sedari malam itu terus kau hubungi, merasakan: bahwa ada rasa yang abadi, meski tanpa pertemuan. Tak sempat aku mengaku, aku bahagia bersamamu. Aku senang, saat hati kita terpaut, tak pernah menyesal, justeru bersyukur. Sampai pada satu ketika, kita berada dalam titik yang sulit, sebagai buah dari rindu yang tak bisa tunduk kecuali hanya dengan temu. Kau bilang, jarak selalu membuat kita berbeda. Aku tak setuju, waktu adalah sabab musabab dan berbeda adalah niscaya. Tapi masih juga aku yakini, itu tak berarti apa-apa.
Waktupun tak pernah menunggu: berlalu dalam bisu. Hingga saat akhirnya, ketika semua berjalan biasa, aku terima kata yang tak pernah sebelumnya hinggap dalam benak: penyesalan. Aku tak terima, kau menyesali waktu yang jelas kita nikmati dan jalani. Dimana waktu waktu itu juga kau isi dengan tawa, tangis, dan berjuta ungkapan rindu. Seperti kataku, bukan jarak yang membuat berbeda, tapi waktu yang berubah secara niscaya.
Saat itulah, dimulainya waktu perpisahan yang sesungguhnya. Kali ini itu sangat berarti, bukan karena jarak kita berpisah, tapi karena tak mensyukuri waktu. Kau perlakukan waktu, seperti sifatnya yang bisu: dibiarkannya saja ia berlalu. Betapa sakitnya mengingat, bahwa kita dipertemukan oleh waktu, juga dipisahkan olehnya sendiri. Yang menjadi alasan mungkin karena waktu waktu yang sudah lalu, tapi bukankah kita merasai waktu yang baru? Kenapa kau masih terperangkap waktu yang telah pergi membisu? Bukankah, banyak waktu berlalu juga yang bisa kau pertimbangkan sebagai alasan untuk kebahagiaan? Entahlah, terkadang kamu tak bisa aku tebak dengan mudah.
Dengan itu, kau tebas sendiri pertautan ini. Pertautan yang kita bangun bersama dengan tawa dan air mata. Andai saja kau bisa berdamai dengan waktu, ia yang pergi membisu, bukan untuk diungkit dijadikan bahan pertengkaran. Damai, juga syukuri waktu yang kini, tidakkah itu lebih elok dan menyenangkan? Sudahlah, mungkin ini garis dari takdir yang tak pernah kita maui.
Kini, aku sendiri menunggu. Mendengar kabar kau akan kembali. Kembali dari jarak, namun entah untuk pertautan. Sampai saat ditengah kesakitan, aku masih berharap. Berharap kau kembali dengan selamat. Tak bisa kuhitung berapa do'a, sampai ketika ku dengar dari para penunggu bandara, bahwa pesawat tak jadi lepas landas. Ia harus menunggu, barang sewaktu dua waktu, hingga betul betul berada pada kondisi paling untung.
Aku sabar menunggumu. Bukan maumu aku menunggu, ini semua mauku. Dimalam itu, dimana perpisahan yang semu nyata, aku bernadzar, jika kau pergi dilepas olehku sendiri, aku harus menjadi orang pertama yang kau kenal, yang kau jumpai. Jika kau diantar olehku, olehku lah kau harus dijemput. Dan aku menepatinya. Janji ini tak main main, aku betul memegangnya hingga pertemuan itu datang.
Dan pertemuan itu, terjadi pada akhirnya. Tak pedulilah aku, apa kita masih terpaut, atau : kau masih memautkan, kalau aku jelas adanya. Aku masih berharap untukmu kembali. Bukan main bahagianya, ketika aku kembali melihat wajahmu. Kamu tak terlalu berbeda, waktu tak membuat ragamu berubah, entahlah kalau hatinya. Biarlah, aku hanya ingin jumpa kau dengan selamat, menunaikan janji janji yang kupegang dalam hati.
Rindu yang menggunung ini, sungguh tak bisa aku ungkap saat pertemuan. Hingga aku tak banyak bicara. Tapi aku menangkap air muka kau tak terlalu begitu senang. Biarlah, aku mencintaimu tanpa syarat. Sampai saat kau katakan sendiri, kenapa aku mengikutimu, sakit kurasai, tapi jelas kumaklumi. Tak juga aku berharap budi, aku hanya ingin bertemu. Karena begitu pentingnya menurutku pertemuan.
Meski terlalu banyak yang kuharap dalam pertemuan, kini aku sadari sesuatu: berharap pada pertemuan bukanlah hal yang menyenangkan. Pertemuan, berlebihan menimbulkan terlalu banyak ekspektasi. Tapi tetap saja, hanya kenyataan yang betul betul kuhadapi. Walau kau tak begitu senang, tapi sungguh aku ingin kau tahu, aku bahagia saat pertemuan, dan jelas aku banyak berharap pada pertemuan.
Kini, yang aku rindui, ternyata bukanlah masa depan. Tapi, ternyata ludahku sendiri: aku rindu pada waktu yang berlalu dengan bisu. Harapku: pertemuan, membangun lagi pertautan.
Minggu, 16 Agustus 2015
Kemerdekaan
Kemerdekaan, apa artinya? Bagiku, kemerdekaan adalah bebas berfikir, bebas bernalar, juga bebas bersuara. Kadang, yang membuat jengah bukanlah berada dalam pemerintahan siapa, atau berada dalam koloni siapa. Jengah adalah ketika suara-suara kita terbungkam, pikiran terkebiri dan saat nalar menjadi tumpul. Suara terbungkam, bukan berarti tak bicara, namun ketika apa yang kita katakan dibenturkan dengan hal-hal yang tak masuk akal juga subjektif: kesopanan misalnya. Kadang, kata sopan dijadikan senjata untuk membungkam suara. Padahal, sopan atau tidak itu perkara subjektif, perkara yang bisa dijadikan penghakiman tanpa pengadilan. Seperti misalnya mengatakan kebenaran: biasanya terdengar pahit bagi si pendosa. Lalu, langsung menjatuhkan vonis, apa yang dikatakan tidak cukup sopan. Bukan, bukan karena tidak sopan sebetulnya, tapi karena merasa terhakimi oleh perkataan. Akhirnya, sopan dijadikan senjata untuk membungkam suara kebenaran.
Selanjutnya, pikiran yang dikebiri. Pikiran bebas selalu diberikan stigma dan negasi. Pikiran yang bebas, biasanya selalu tak diterima oleh yang terbiasa sempit bernalar. Kaum konservatif misalnya, yang mempertahankan kesamaan, kebiasaan, konsensus dan sukar menerima variasi cara pandang. Sehingga, jika ada yang berfikir berbeda, dianggapnya terlalu radikal. Jika ada yang memandang dengan cara tak biasa, dianggapnya racun yang harus dibasmi. Saat ada yang melakukan sesuatu diluar kebiasaan, dihakimi sebagai orang berbahaya. Lantas ketika ada yang berbicara diluar kemampuan nalarnya, dianggapnya pemecah harmoni. Padahal, makhluk macam apa yang seolah berkuasa atas apa yang berada dalam tempurung kepala orang lain?
Selanjutnya, jika hal tadi dibiarkan, pikiran sukar berkembang. Nalar menjadi tumpul: dengan sendirinya karena menghamba pada ketakutan. Takut berbeda, takut tak sama, takut dianggap radikal, takut dianggap liberal, takut dianggap tak sopan. Nalar yang tumpul lantas melahirkan sikap yang dangkal. Sikap yang dangkal, melahirkan arogansi dan merasa benar sendirian. Sehingga, lahirlah sikap anti kebebasan. Norma didasarkan pada kebiasaan juga kesamaan yang tak pernah diuji kebenaran. Saat itu, mengebiri pikiran menjadi sebuah keniscayaan, atau paling tidak pemakluman. Padahal, sadarkah justeru itulah esensi dari penjajahan?
Saya teringat apa yang disajakkan Widji Thukul, "Jangan kau penjarakan ucapanmu, jika kau menghamba pada ketakutan, kita akan memperpanjang barisan perbudakan.."
Selasa, 11 Agustus 2015
Entahlah...
Semakin lama, kehidupan terasa demikian asing. Mungkin karena manusia berubah, aku masih sama. Atau mungkin sebaliknya, aku yang banyak berubah, manusia masih berada dalam kehidupan yang sama. Atau juga bisa jadi dan ini yang paling masuk akal, kami sama sama berubah. Entahlah, yang jelas aku belum mengerti dan tahu jawabannya.
Himpunan rasa melankolia ini semakin tak saya mengerti. Kadang aku sering bertanya, apa yang terjadi dalam diriku setiap pagi? Ada semacam serangan rasa sepi yang mengantar pada kecemasan. Kecemasan akan apa? Entahlah, yang jela suasana hati menjadi mendung, bagai langit yang berjelaga mega. Terkadang rasa ini hinggap seketika, dan juga lenyap seketika.
Mungkin karena mendung pagi ini. Mungkin. Pasca berakhirnya bulan bulan kemarau, pagi yang biasanya cemerlang kian kelabu. Awan menjadi tebal, memberi kesan matahari enggan menampakkan diri. Percaya atau tidak, situasi ini mempengaruhi suasana hati. Apakah manusia selemah ini, bahkan karena awan menebal, ia menjadi lemah gairah? Entahlah, yang jelas melankoli datang lagi.
Harus ku akui, aku terjebak pada situasi ini. Situasi kegamangan, situasi kelabu yang kian tak menentu. Ketika perasaan ini muncul, seketika kemudian aku rapuh. Bagai kayu tua yang sering ditimpa hujan, aku lembab. Bahkan kurasakan lumut-lumut keresahan tumbuh menghadang hangatnya sorot matahari. Cacing cacing kayu mulai menggerogoti sela sela hati. Aku tersandar sunyi, bertemaram sepi, gelap dan basah. Entahlah..
Kurasai, solar plexus di dasar rongga dada semakin keras berdenyut. Aku semakin tersedot pada diriku sendiri. Menjauhi segala hingar bingar keramaian. Acuh tak acuh pada semua pesta pora. Ini ungkapan klasik: dalam keramaian aku sendirian. Seperti menara gading tua di pinggir pantai pelabuhan yang tak terpakai, aku benar-benar kesepian. Keramaian bagai deru ombak lautan: nada dan temponya sama, dan aku bosan. Tapi aku tak bisa kemana-mana. Hanya terpaku diam menghadap debur ombak, tanpa bisa beranjak.
Aku ingin sudahi segala rasa keruh ini, menapaki jalan sunyi, melanjutkan perjalanan.. kemana? Entahlah...
Lalu aku kenapa? Entahlah..