Semakin lama, kehidupan terasa demikian asing. Mungkin karena manusia berubah, aku masih sama. Atau mungkin sebaliknya, aku yang banyak berubah, manusia masih berada dalam kehidupan yang sama. Atau juga bisa jadi dan ini yang paling masuk akal, kami sama sama berubah. Entahlah, yang jelas aku belum mengerti dan tahu jawabannya.
Himpunan rasa melankolia ini semakin tak saya mengerti. Kadang aku sering bertanya, apa yang terjadi dalam diriku setiap pagi? Ada semacam serangan rasa sepi yang mengantar pada kecemasan. Kecemasan akan apa? Entahlah, yang jela suasana hati menjadi mendung, bagai langit yang berjelaga mega. Terkadang rasa ini hinggap seketika, dan juga lenyap seketika.
Mungkin karena mendung pagi ini. Mungkin. Pasca berakhirnya bulan bulan kemarau, pagi yang biasanya cemerlang kian kelabu. Awan menjadi tebal, memberi kesan matahari enggan menampakkan diri. Percaya atau tidak, situasi ini mempengaruhi suasana hati. Apakah manusia selemah ini, bahkan karena awan menebal, ia menjadi lemah gairah? Entahlah, yang jelas melankoli datang lagi.
Harus ku akui, aku terjebak pada situasi ini. Situasi kegamangan, situasi kelabu yang kian tak menentu. Ketika perasaan ini muncul, seketika kemudian aku rapuh. Bagai kayu tua yang sering ditimpa hujan, aku lembab. Bahkan kurasakan lumut-lumut keresahan tumbuh menghadang hangatnya sorot matahari. Cacing cacing kayu mulai menggerogoti sela sela hati. Aku tersandar sunyi, bertemaram sepi, gelap dan basah. Entahlah..
Kurasai, solar plexus di dasar rongga dada semakin keras berdenyut. Aku semakin tersedot pada diriku sendiri. Menjauhi segala hingar bingar keramaian. Acuh tak acuh pada semua pesta pora. Ini ungkapan klasik: dalam keramaian aku sendirian. Seperti menara gading tua di pinggir pantai pelabuhan yang tak terpakai, aku benar-benar kesepian. Keramaian bagai deru ombak lautan: nada dan temponya sama, dan aku bosan. Tapi aku tak bisa kemana-mana. Hanya terpaku diam menghadap debur ombak, tanpa bisa beranjak.
Aku ingin sudahi segala rasa keruh ini, menapaki jalan sunyi, melanjutkan perjalanan.. kemana? Entahlah...
Lalu aku kenapa? Entahlah..
Selasa, 11 Agustus 2015
Entahlah...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar