Selasa, 25 Agustus 2015

Biru & Kelabu (2)

Pukul 5 sore tepat ia pulang dari kantor, selalu begitu. Ia tipikal suami yang tak merepotkan, setidaknya menurutku. Tas dan sepatu kulitnya ia taruh di tempat yang semestinya. Setelah itu ia bergegas menuju kamar mandi dan mencopot helaian kain yang melekat seharian di tubuhnya. Selagi menunggunya selesai mandi, aku menyiapkan secangkir kopi hangat. Oh ya, kopi pahit tentunya. Dia tidak suka sesuatu yang berbau manis.

Tapi hari ini lain. Ia langkahkan kedua kakinya menuju taman. Ku kira ia datang untuk sekadar mengecup kening atau pipiku. Nyatanya bukan.

“Aku ingin kembali main teater,” ujar suamiku tiba-tiba.

Sejenak aku diam, tertegun. “Kamu yakin?”

Dia memandang ke arahku, lebih tepatnya memelototiku. Oke, ada satu hal yang harus aku pahami. Bahwa ketika dua bola mata suamiku tengah terbuka lebih besar dari biasanya, hal itu menandakan bahwa ia benar-benar yakin dengan apa yang diperbuat dan diucapkannya.

Aku mungkin tak paham tentang dunia yang telah digeluti kemudian ditinggalkannya sepuluh tahun silam. Jelas, aku bukan perempuan yang senang merecoki urusan pribadi orang lain. Oleh sebab itu aku tak pernah menanyakan perihal tersebut padanya.

Teater, bagiku tempat dimana aku pertama kali berjumpa dengannya. Waktu itu, kali pertama sekaligus kali terakhir aku melihatnya di atas panggung sana. Tak jelas apa alasannya mengapa ia pergi begitu saja dari panggung yang telah membesarkan namanya.





“Aku sudah memikirkan hal ini masak-masak,” tuturnya diakhiri dengan helaan napas.

Aku masih diam. Masih berusaha memahami jalan pikiran suamiku. Aku tatap lekat-lekat wajah di depanku ini. Jelas, tak ada keraguan sedikit pun yang nampak pada parasnya.

Jujur saja aku tak begitu kaget ketika ia berujar seperti itu. Sebetulnya belakangan ini aku telah sering memergokinya berdiri di depan sebuah cermin ruang tengah rumah kami. Ukuran cermin di ruangan itu memang lebih besar daripada cermin yang lain yang ada di rumah. Ku kira hal itulah yang membuatnya betah berlama-lama menatap kembaran semunya. Namun ada hal yang lain. Ia tak hanya berdiri untuk berkaca tapi ia mengajak bicara kembaran semunya yang terpantul di cermin tersebut. Kadang, ia terlihat seolah-olah sedang marah, sinis, gembira tiba-tiba kemudian setelah itu hanya sedih yang ia perlihatkan. Aku tak ingat apa yang ia ucapkan saat itu, tapi aku seperti melihat dia yang dulu, waktu di atas panggung tearternya.

“Tak masalah buatku kalo kamu mau balik lagi ke panggung. Mungkin di sanalah tempatmu. Tapi boleh aku tahu, mengapa dulu kamu tinggalkan teatermu itu? ”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar