Minggu, 16 Agustus 2015

Kemerdekaan

Kemerdekaan, apa artinya? Bagiku, kemerdekaan adalah bebas berfikir, bebas bernalar, juga bebas bersuara. Kadang, yang membuat jengah bukanlah berada dalam pemerintahan siapa, atau berada dalam koloni siapa. Jengah adalah ketika suara-suara kita terbungkam, pikiran terkebiri dan saat nalar menjadi tumpul. Suara terbungkam, bukan berarti tak bicara, namun ketika apa yang kita katakan dibenturkan dengan hal-hal yang tak masuk akal juga subjektif: kesopanan misalnya. Kadang, kata sopan dijadikan senjata untuk membungkam suara. Padahal, sopan atau tidak itu perkara subjektif, perkara yang bisa dijadikan penghakiman tanpa pengadilan. Seperti misalnya mengatakan kebenaran: biasanya terdengar pahit bagi si pendosa. Lalu, langsung menjatuhkan vonis, apa yang dikatakan tidak cukup sopan. Bukan, bukan karena tidak sopan sebetulnya, tapi karena merasa terhakimi oleh perkataan. Akhirnya, sopan dijadikan senjata untuk membungkam suara kebenaran.
Selanjutnya, pikiran yang dikebiri. Pikiran bebas selalu diberikan stigma dan negasi. Pikiran yang bebas, biasanya selalu tak diterima oleh yang terbiasa sempit bernalar. Kaum konservatif misalnya, yang mempertahankan kesamaan, kebiasaan, konsensus dan sukar menerima variasi cara pandang. Sehingga, jika ada yang berfikir berbeda, dianggapnya terlalu radikal. Jika ada yang memandang dengan cara tak biasa, dianggapnya racun yang harus dibasmi. Saat ada yang melakukan sesuatu diluar kebiasaan, dihakimi sebagai orang berbahaya. Lantas ketika ada yang berbicara diluar kemampuan nalarnya, dianggapnya pemecah harmoni. Padahal, makhluk macam apa yang seolah berkuasa atas apa yang berada dalam tempurung kepala orang lain?
Selanjutnya, jika hal tadi dibiarkan, pikiran sukar berkembang. Nalar menjadi tumpul: dengan sendirinya karena menghamba pada ketakutan. Takut berbeda, takut tak sama, takut dianggap radikal, takut dianggap liberal, takut dianggap tak sopan. Nalar yang tumpul lantas melahirkan sikap yang dangkal. Sikap yang dangkal, melahirkan arogansi dan merasa benar sendirian. Sehingga, lahirlah sikap anti kebebasan. Norma didasarkan pada kebiasaan juga kesamaan yang tak pernah diuji kebenaran. Saat itu, mengebiri pikiran menjadi sebuah keniscayaan, atau paling tidak pemakluman. Padahal, sadarkah justeru itulah esensi dari penjajahan?
Saya teringat apa yang disajakkan Widji Thukul, "Jangan kau penjarakan ucapanmu, jika kau menghamba pada ketakutan, kita akan memperpanjang barisan perbudakan.."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar