“Aku ingin kembali main teater”
Kalimat itu begitu saja mengalir dari mulutku. Istriku, yang pada waktu itu hampir mencumbu bibir gelas tehnya, seketika mengembalikan ke tatakan. “Kamu yakin?” ujarnya sambil mengerutkan kening. Aku hanya terdiam tak melanjutkan percakapan ini. Mataku lurus melihat ayunan bercat putih yang terbuat dari besi di sudut taman belakang. Ayunan itu adalah mimpi istriku. Semenjak kami berpacaran, dia memimpikan memiliki rumah dengan sepetak perpustakaan tersembunyi yang menghadap taman dengan rerumputan hijau serta bunga-bunga berwarna kontras. Taman itu juga tersembunyi, dimana saat itu dia membayangkan bahwa setiap orang yang datang kerumahnya, takkan pernah tahu bahwa ada sudut indah dalam rumahnya.
Sepuluh tahun, berlalu begitu cepat. Masih lekat dalam ingatan, aku untuk pertama kalinya melingkarkan cincin emas tak seberapa harganya di jari manis istriku. Hingga saat ini, istriku tak pernah mengungkit berapa harga yang ku rogoh dari kocekku untuk membellinya. Baginya, sekadar cincin pernikahan bukanlah harga yang pantas untuk membeli tubuhnya. “Cinta, lebih mahal ketimbang harta,” selorohnya, setiap kali. Begitupun pada saat kami berpacaran. Selama itu, aku tak pernah membelikannya apapun.
Meski begitu, aku sudah melingkarkan sesuatu di jarinya. Suatu hari, aku memungut sampah plastik berwarna perak keemasan. Aku menarik plastik itu hingga panjang dan membentuk persis seperti kawat. Saat itu dia sedang membaca majalah, diam membatu, karena selalu begitu saat dia sedang membaca. Aku tarik lengan kirinya, lalu di jari manisnya aku ikatkan plastik perak itu dengan simpul kupu-kupu. Aku mengecup jemarinya mesra. Dia hanya tersenyum. Aku fikir, ikatan plastik sampah itu akan segera dia buang saat pulang ke rumah. Bagikupun, itu tak berarti apa-apa, hanya ungkapan yang aku bosan jika hanya terucap “aku cinta padamu”. Hingga sesaat sebelum aku melingkarkan cincin emas betulan di jarinya, saat disampingnya di depan penghulu, sekilas aku menengok ke jarinya: masih terikat.
Dulunya, aku adalah pemain teater. Aku berada di dunia sandiwara sebagai aktor ulung cukup lama. Bagiku, teater adalah dunia tanpa batas yang bisa aku ciptakan sendiri. Setidaknya, di dunia teater, meski hanya sandiwara dan rekayasa, aku lebih hidup ketimbang di dunia nyata. Dunia nyata selalu penuh dengan kepalsuan. Dunia teater, sepenuhnya palsu tapi mencerminkan kejujuran paling hakiki dari dasar hati. Aku begitu nyaman tenggelam dalam dunia kepalsuan ini. Karena dengan kepalsuan ini aku bisa dengan jujur meluapkan kerisauan. Dunia nyata terlalu kaku bagiku, hingga saat aku bertemu dengan istriku, semua berubah. Dia membawaku melihat warna di dunia nyata: meyakinkanku bahwa tak semua sudut dunia ini palsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar