Aku terdiam sejenak mencerna kata demi kata pertanyaan yang dilontarkan istriku. Sejenak aku berpaling, melempar pandangan kembali ke ayunan putih di sudut taman. Aku ambil secangkir kopi buatan istriku di meja, menyeruput barang sedikit: rasanya masih tetap pahit. Sedari dulu aku menyukai kopi rasa pahit. Istriku sudah tahu seleraku. Tak pernah sekalipun dia menyajikan kopi bergula: selalu pahit, pekat dan tak banyak airnya.
Sambil memegang daun telinga cangkir kopi, aku menyandarkan bahuku ke tiang pembatas antara pintu dan jendela. Mataku kosong tetap menatap ayunan itu. Dalam pikiranku berkecamuk pertanyaan tadi. Aku ingin mengedipkan mataku, tapi tak bisa. Pikiranku menyibukkanku dari sekadar menyadari apa yang kupandang atau sekadar kedipan membasahi dua bola mataku.
Bibirku bergerak namun tak bersuara. Malu rasanya berterus terang menjawab pertanyaannya. Aku hanya menyunggingkan sudut bibirku, menahan senyuman. Sejauh aku mengenalnya, dia seorang yang haus akan pengetahuan. Ia tak pernah berhenti bertanya, dan Ia tak pernah berubah. Terkadang aku menjadi kesal karena dia selalu mengejar pertanyaan kenapa ketika dia butuh jawaban atas apa yang kulakukan. Dan sekarang, aku yakin dia akan mengulang pertanyaannya, karena aku tak jua bicara.
“Kenapa? Kenapa kamu tinggalkan itu dulu?”
“Hmmmh..” responku sembari tersenyum.
Dari sudut mata, aku lihat istriku bangkit menghampiri. Memegang tatakan dan ujung bibir cangkir. Sesekali ia menghembuskan nafas, langkahnya sempat ragu terhenti, namun jua menghampiri. Saat tangannya mendarat di bahuku, aku menoleh “ada yang perlu, dan tidak perlu kamu tahu tentangku, ada yang dengan sendirinya kau tahu, namun ada yang takkan pernah kamu tahu barang sedikit,” kataku sembari menatap kosong wajahnya.
“Kamu, sejak ku kenal, sampai kapanpun, selalu misteri,” jawabnya melempar pandang ke taman.
Aku masih sibuk dengan pikiranku. Banyak episode cerita berputar-putar berulang dalam benak. Dengan itu, kesadaranku seketika terhirup dalam: kembali menjadi pemeran masa lalu. Kurasai, suasana, alur cerita hingga rasa yang telah kualami masa itu seakan menjadi cuaca lamunanku sore ini. Aku membayangkan riuhnya penonton, gelak tawa serta bisikan kanan kiri mengomentari performa yang kusajikan di malam medio februari. Aku masih ingat betul, sajian drama berbumbu komedi sana sini yang kumainkan, cerita tentang perantauan kampung menjejaki kerasnya nasib di Jakarta. Bukan tanpa alasan aku membayangkan episode ini, ada kesan yang tiba-tiba tertanam mengakar saat aku di pentas ini. Belum sampai lamunanku pada peristiwa itu, istriku menarikku kembali pada kesadaran. “Sudah, habiskan kopimu! Kan kamu pernah bilang, kopi dingin melahirkan rasa yang berbeda,” katanya menepuk bahuku sambil berlalu duduk kembali.
“Maaf, tiba-tiba aku berubah melankoli. Mungkin lelah membuat benak menjadi kelabu,” ujarku padanya. Ia meletakkan cangkir tehnya di meja kecil bundar, lalu membuka lembaran koran yang tak sempat kubaca pagi ini. Kulihat geriknya, membuat aku jadi membayangkan dirinya saat muda, saat bersamaku. Posisi itu seperti sudah menjadi khasnya. Tak banyak yang berubah dari istriku ini. Tubuhnya, seolah memancarkan ketabahan. Tak henti aku kagum padanya, bukan pada kemolekan tubuhnya, atau hal-hal lain yang berbau fisik: aku kagum pada isi kepalanya.
Terkadang ia sulit kutebak. Hidup dua setengah kalipun tak cukup waktu memahaminya. Wanita kebanyakan memang sulit ditebak, topengnya terlalu rumit dan beragam. Tapi, dia lebih rumit lagi, kadang aku seperti monyet yang berupaya memahami kenapa awan bisa bergelantungan di langit. Perjalananku mendapatakannyapun, bukan tanpa kerumitan. Berulang kali harus kuputar otakku untuk memahami, drama apa yang tengah ia mainkan. Jejak dan alur untuk mengikutinya, bergelombang penuh emosi, tak hanya bisa difahami dengan sekali mengayun kaki. Tapi, dengan itu aku mengerti, betapa dalam hati perempuan. Menyelaminya, berarti siap menyerahkan pada kematian. Tak bisa kuhitung berapa kali hatiku patah demi memahami jengkal jejak waktunya.
Kini ia melihatku yang sedari tadi memandangnya tanpa kedip. Sekilas ia tersenyum, “Kamu berhutang jawab atas pertanyaanku, dan penasaranku tak bisa selesai dengan hanya bengong menatap,” sungging senyumnya kembali merekah. Aku hanya ikut merasakan senyum hangatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar