Jumat, 21 Agustus 2015

Pertemuan

Pertemuan, kenapa terlalu berharap pada pertemuan. Sudah kuduga sebelumnya, genggamanmu di lenganku waktu itu adalah pertanda dari perpisahan. Tak biasanya kau begitu, mesra, dekat, intim. Biasanya kau menjaga jarak, tanda hati masih terpaut. Tapi malam itu, malam yang perpisahan yang sebetulnya tak berarti apapun, kau gamit tanganku akrab. Sudah dapat kurasai: drama kedekatan adalah awal dari perpisahan. Namun segera ku tepis perasaan itu. Aku menggantung harap pada malam dingin, dan hari hari yang akan sepi tanpamu. Berharap: bahwa perpisahan, kepergian tak berarti melepaskan pertautan.

Awalnya betul juga, kita masih terpaut. Kau masih mengabari, tertawa bersamaku, atau menertawai satu sama lain. Perpisahan malam itu, aku yakini tak berarti apapun. Sampai aku mengabari, punggungku kosong tanpa ceritamu seperti biasa. Cerita perjalanan yang sulit kita hentikan. Sampai tiba di depan peraduan, ada masih banyak cerita yang belum diungkapkan. Sehingga kita masih berasa perlu saling mengabari, sampai seterusnya kembali bercerita. Diskusi-diskusi tiada henti, adalah isi dari hidup bersama. Kadang kau menang, kadang aku yang tak mau kalah. Tapi itu tak mengapa, tak berarti apa-apa.

Aku yang sedari malam itu terus kau hubungi, merasakan: bahwa ada rasa yang abadi, meski tanpa pertemuan. Tak sempat aku mengaku, aku bahagia bersamamu. Aku senang, saat hati kita terpaut, tak pernah menyesal, justeru bersyukur. Sampai pada satu ketika, kita berada dalam titik yang sulit, sebagai buah dari rindu yang tak bisa tunduk kecuali hanya dengan temu. Kau bilang, jarak selalu membuat kita berbeda. Aku tak setuju, waktu adalah sabab musabab dan berbeda adalah niscaya. Tapi masih juga aku yakini, itu tak berarti apa-apa.

Waktupun tak pernah menunggu: berlalu dalam bisu. Hingga saat akhirnya, ketika semua berjalan biasa, aku terima kata yang tak pernah sebelumnya hinggap dalam benak: penyesalan. Aku tak terima, kau menyesali waktu yang jelas kita nikmati dan jalani. Dimana waktu waktu itu juga kau isi dengan tawa, tangis, dan berjuta ungkapan rindu. Seperti kataku, bukan jarak yang membuat berbeda, tapi waktu yang berubah secara niscaya.

Saat itulah, dimulainya waktu perpisahan yang sesungguhnya. Kali ini itu sangat berarti, bukan karena jarak kita berpisah, tapi karena tak mensyukuri waktu. Kau perlakukan waktu, seperti sifatnya yang bisu: dibiarkannya saja ia berlalu. Betapa sakitnya mengingat, bahwa kita dipertemukan oleh waktu, juga dipisahkan olehnya sendiri. Yang menjadi alasan mungkin karena waktu waktu yang sudah lalu, tapi bukankah kita merasai waktu yang baru? Kenapa kau masih terperangkap waktu yang telah pergi membisu? Bukankah, banyak waktu berlalu juga yang bisa kau pertimbangkan sebagai alasan untuk kebahagiaan? Entahlah, terkadang kamu tak bisa aku tebak dengan mudah.

Dengan itu, kau tebas sendiri pertautan ini. Pertautan yang kita bangun bersama dengan tawa dan air mata. Andai saja kau bisa berdamai dengan waktu, ia yang pergi membisu, bukan untuk diungkit dijadikan bahan pertengkaran. Damai, juga syukuri waktu yang kini, tidakkah itu lebih elok dan menyenangkan? Sudahlah, mungkin ini garis dari takdir yang tak pernah kita maui.

Kini, aku sendiri menunggu. Mendengar kabar kau akan kembali. Kembali dari jarak, namun entah untuk pertautan. Sampai saat ditengah kesakitan, aku masih berharap. Berharap kau kembali dengan selamat. Tak bisa kuhitung berapa do'a, sampai ketika ku dengar dari para penunggu bandara, bahwa pesawat tak jadi lepas landas. Ia harus menunggu, barang sewaktu dua waktu, hingga betul betul berada pada kondisi paling untung.

Aku sabar menunggumu. Bukan maumu aku menunggu, ini semua mauku. Dimalam itu, dimana perpisahan yang semu nyata, aku bernadzar, jika kau pergi dilepas olehku sendiri, aku harus menjadi orang pertama yang kau kenal, yang kau jumpai. Jika kau diantar olehku, olehku lah kau harus dijemput. Dan aku menepatinya. Janji ini tak main main, aku betul memegangnya hingga pertemuan itu datang.

Dan pertemuan itu, terjadi pada akhirnya. Tak pedulilah aku, apa kita masih terpaut, atau : kau masih memautkan, kalau aku jelas adanya. Aku masih berharap untukmu kembali. Bukan main bahagianya, ketika aku kembali melihat wajahmu. Kamu tak terlalu berbeda, waktu tak membuat ragamu berubah, entahlah kalau hatinya. Biarlah, aku hanya ingin jumpa kau dengan selamat, menunaikan janji janji yang kupegang dalam hati.

Rindu yang menggunung ini, sungguh tak bisa aku ungkap saat pertemuan. Hingga aku tak banyak bicara. Tapi aku menangkap air muka kau tak terlalu begitu senang. Biarlah, aku mencintaimu tanpa syarat. Sampai saat kau katakan sendiri, kenapa aku mengikutimu, sakit kurasai, tapi jelas kumaklumi. Tak juga aku berharap budi, aku hanya ingin bertemu. Karena begitu pentingnya menurutku pertemuan.

Meski terlalu banyak yang kuharap dalam pertemuan, kini aku sadari sesuatu: berharap pada pertemuan bukanlah hal yang menyenangkan. Pertemuan, berlebihan menimbulkan terlalu banyak ekspektasi. Tapi tetap saja, hanya kenyataan yang betul betul kuhadapi. Walau kau tak begitu senang, tapi sungguh aku ingin kau tahu, aku bahagia saat pertemuan, dan jelas aku banyak berharap pada pertemuan.

Kini, yang aku rindui, ternyata bukanlah masa depan. Tapi, ternyata ludahku sendiri: aku rindu pada waktu yang berlalu dengan bisu. Harapku: pertemuan, membangun lagi pertautan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar